📚 Journal Papers
Browse papers from affiliated journals. Claim papers you've authored to link them to your profile.
Advance Periodic Waves and Closed-Form Invariant Solutions for $$(2 + 1)$$-Dimensional Hyperbolic Nonlinear Schrödinger (HNLS) Equation via Two Efficient Mathematical Approaches
Amit Kumar, Dharmendra Kumar, Ashwani Saharan
📚 Electronic ISSN📅 Mar 2026Crossref
Dynamics of Quantum States Distinguishability in $$\mathcal{P}\mathcal{T}$$ and $$\mathcal{A}\mathcal{P}\mathcal{T}$$ Qubits
Ali Moulhim, Ali Khairbek
📚 Electronic ISSN📅 Mar 2026Crossref
Matter Spin Networks and Gauge Invariance at Planck Scales
Mikhail Altaisky
📚 Electronic ISSN📅 Mar 2026Crossref
The Feynman Path Integral Formulation of Non-Dispersive Airy Wave Packets and their Applications to the Heavy Meson Mass Spectra and Ultra-Cold Neutrons
Paul Ferrante, Connor Donovan, Chueng-Ryong Ji
📚 Electronic ISSN📅 Mar 2026Crossref
Abstract
We demonstrate the non-spreading behavior of Airy wave packets utilizing the Feynman path integral formulation of a linear potential, the Airy functions’ zeros correspondence to heavy-meson mass spectroscopy, and their implications to the eigenstates of ultra-cold neutrons in Earth’s gravitational field. We derive the linear kernel, and utilize the Feynman path integral time evolution to show that Airy function wave packets are non-dispersive in free space. We then model the confining contribution to 1S - 2S heavy meson mass gaps as a 1+1D absolute linear potential and look at the correspondence of the Airy function zeros. In doing so, we predicted the confining contribution to the mass gap of heavy mesons with a good accuracy when compared to calculations performed in the light front. Furthermore, we used these Airy function solutions to model the quantum states of a neutron under Earth’s gravity. We show that the measured heights of a neutron can be modeled by the zeros of the Airy function, and compare to experimental data and predictions utilizing the WKB approximation.
Quantum Mechanical Approaches to Visual Security: A Comparative Review of Image Representation and Steganography Protocols
Ramazan Altın, Engin Şahin
📚 Electronic ISSN📅 Mar 2026Crossref
Voltage Partition–Driven Modulation of Quantum Capacitance and Ideality Factor in Graphene/Si Schottky Junctions
Banafsheh Alizadeh Arashloo
📚 Electronic ISSN📅 Mar 2026Crossref
Geometric Derivation of the Born Rule from Quaternionic Spinor Gravity
Julian G. B. Northey
📚 Electronic ISSN📅 Mar 2026Crossref
ANALISIS FAKTOR KENDALA INOVASI IKAN TERBANG ASAP (Hirundichthys oxycephalus) PADA UKM DI KABUPATEN MAJENE
Indrastuti Indrastuti, Dahniar Dahniar
📚 AgriTech Journal📅 Nov 2019IF: 5.20Crossref
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis elemen kendala inovasi ikan terbang asap pada UKM di Kabupaten Majene, kemudian menentukan faktor kunci atau elemen kunci dari kendala yang dihadapi dalam masalah inovasi ikan terbang asap , penelitian ini dilakukan pada UKM yang memproduksi ikan terbang asap dengan sampel sejumlah UKM, pemerintah, dan pakar akademisi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah; kuisioner; wawancara dengan responden UKM; dan wawancara mendalam dengan pakar yaitu pemerintah dan akademisi. Data yang diperoleh dianalisis dengan menerapkan ISM (Interpretative Structural Modelling). Hasil penelitian menunjukkan 12 faktor kendala inovasi ikan terbang asap yaitu kurangnya kompetensi SDM (7), dan kurangnya pemahaman manajemen usaha (10), adanya sistem nilai dan budaya (P8), Teknologi yang dianut oleh pelaku UKM (P5) merupakan faktor kunci dalam elemen kendala berada pada sektor IV (Independent).
NUTRIFIKASI DAUN KELOR (Moringa oleifera) DENGAN VARIETAS UMUR DAUN BERBEDA TERHADAP KARAKTERISTIK MUTU NORI RUMPUT LAUT (Gracilaria spp)
Satria Wati Pade, Nur Fitriyanti Bulotio
📚 AgriTech Journal📅 Nov 2019IF: 5.20Crossref
Indonesia adalah Negara yang memiliki iklim tropis. Berbagai tanaman mudah tumbuh subur di Indonesia khususnya di Sulawesi salah satu contoh adalah tanaman kelor. Daun kelor memiliki kandungan antikosidan yang tinggi dan kandungan vitamin A dan vitamin C. Di Gorontalo, daun kelor biasanya hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Masyarakat tidak begitu menyukai daun kelor bila diolah menjadi sayuran. Oleh karena itu perlu dilakukan paya diversifikasi produk pangan untuk meningkatkan nilai tambah daun kelor, memperpanjang daya simpan produk daun kelor dan untuk menarik peminat dari berbagai kalangan usia, antara lain diolah menjadi nori. Nori biasanya terbuat dari rumput laut. Gorontalo Utara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Gorontalo yang potensial untuk pengembangan rumput laut. Rumput laut mengandung serat kasar yang tidak begitu banyak yaitu sebesar 4,15% jika dibandingkan dengan serat kasar daun kelor sebesar 7,92%, sehingga diharapkan dengan kombinasi antara rumput laut dan daun kelor dengan variasi umur daun yang berbeda dalam pembuatan nori rumput laut bisa menjadi salah satu olahan jenis pangan fungsional sebagai sumber vitamin C dan serat kasar. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga perlakuan variasi umur daun kelor, yaitu perlakuan P1= Daun kelor tua 100% , P2= Daun kelor muda 100%, P3= Daun kelor tua 50% : Daun kelor muda 50%%, masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Variabel yang diamati yaitu meliputi: kadar air, vitamin C dan serat kasar. Hasil penelitian menunjukkan kadar air nori berkisar antara 11,5% – 12,3%, Vitamin C 2,6 s/d 3,1 mg/100g dan kadar serat kasar 4,6% s/d 5,1 %.
Arahan Pengelolaan Optimasi Faktor Produksi Pada Agribisnis Buah Naga Di Desa Banuroja
Dewa Oka Suparwata, Ramlan Pomolango
📚 AgriTech Journal📅 Nov 2019IF: 5.20Crossref
Tujuan penelitian ini untuk mengkaji Arahan Pengelolaan Optimasi Faktor Produksi Pada Agribisnis Buah Naga. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, pada Bulan April sampai Juli 2019. Penelitian ini didesain dengan metode survei. Populasi petani buah naga di desa banuroja sebanyak 160 orang. Sampel ditentukan sebesar 30% dari populasi, sehingga diperoleh 48 responden. Penentuan sampel dilakukan secara acak sederhana. Untuk optimalisasi faktor produksi optimal maka digunakan analisis Linear Programming (LP), dengan bantuan software Lindo 6.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: optimasi faktor produksi dalam pengelolaan agribisnis buah naga berdasarkan analisis LP yang direkomendasikan ialah lahan 1,12 Ha, bibit 670 batang, pupuk kandang 2756,1 Kg, tenag kerja 16,1 HOK, pestisida 2,66 Liter, POC 2,66 Liter, pupuk urea 81,6 Kg, dan pupuk ponska 133,29 Kg. Hal ini menjadi dasar pertimbangan pada pengelolaan agribisnis buah naga di pekarangan pada masyarakat desa banuroja, sehingga petani dapat mempertimbangkan antara pengeluaran biaya usahatani dengan hasil produksi yang diterimanya.
PENGARUH UMUR PANEN TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA TEPUNG JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt)
Fredy Irawan
📚 AgriTech Journal📅 Nov 2019IF: 5.20Crossref
Jagung merupakan pangan lokal unggulan di daerah Gorontalo yang dapat menjadi pangan alternatif. Komposisi yang ada pada jagung bervariasi tergantung umur dan varietasnya. Jagung manis yang dipanen dalam waktu lama dapat menurunkan kualitas produksi. Pemanfaatan jagung sebagai produk olahan hasil pangan lokal mampu meningkatkan nilai tambah jagung secara optimal, salah satunya dengan pengolahan tepung jagung. Pengolahan jagung menjadi bentuk tepung lebih dianjurkan, karena lebih tahan disimpan dan mudah digunakan untuk proses pengolahan lanjutan. Penelitian ini bertujuan menentukan umur panen jagung manis yang dapat diolah menjadi tepung dan karakteristik kimia tepung jagung manis pada umur panen 70, 80 dan 90 hari setelah tanam.
Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan umur panen jagung manis 70, 80 dan 90 hari setelah panen dengan 4 kali ulangan. Variabel yang diamati yaitu karakteristik kimia tepung jagung manis yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan tepung jagung manis memiliki rata-rata amilosa berkisar 8,88 – 20,94%, kadar air biji berkisar 56,70 – 77,10%, kadar air tepung jagung berkisar 3,61 – 5,59%, kadar abu berkisar 2,33 – 3,00%, lemak berkisar 6,52 – 17,50% pada tepung jagung manis. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jagung manis pada umur panen 90 HST dapat diolah menjadi tepung.
PENGARUH LAPISAN EDIBLE COATING KITOSAN PADA CABAI KERITING (Capsicum annum L) DENGAN PENYIMPANAN SUHU RENDAH
Ria Megasari, A. Khairun Mutia
📚 AgriTech Journal📅 Nov 2019📊 1 citationsIF: 5.20Crossref
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi kitosan yang tepat untuk melapisi cabai keriting selama penyimpanan suhu rendah yang dapat memperpanjang umur simpan cabai keriting (Capsicum annum L) dan mengetahui kualitas dari cabai keriting (Capsicum annum L) setelah diberikan perlakuan edible coating kitosan. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dari penelitian ini adalah E0 = Kontrol, E1 = Kitosan 1%, E2 = Kitosan 2%, E3 = Kitosan 3%. Pengamatan yang dilakukan adalah pengukuran susut bobot, Kadar vitamin C, Pengukuran warna, Kecerahan (nilai L), dan kerusan Cabai Keriting. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik dalam aplikasi edible coating berbahan dasar Kitosan yaitu pada perlakuan E3. Dimana hasil analisis setelah 12 HSP pada parameter susut bobot yaitu 7.23, warna 45.30, kecerahan 28.23, kadar vitamin C 2.33, dan kerusakan 8.67.
Pertumbuhan Dan Produksi Padi Lokal Di Gorontalo
M. Darmawan, Asmuliani R, Irmawati Irmawati
📚 AgriTech Journal📅 Nov 2019IF: 5.20Crossref
Penelitian ini bertujuan unutk mengetahui pertumbuhan dan hasil produksi dari beberapa varietas padi lokal yang ada di gorontalo, Penelitian ini disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan 5 kultivar padi lokal yaitu : Panelo, Maraya, Bokungo, Buruna, dan Ponda. Adapun perlakuan adalah Panelo (V1), Maraya (V2), Bokungo (V3), Buruna (V4), dan Ponda (V5). Parameter pengamatan yang dilakukan adalah Tinggi tanaman (cm), dimana pengukuran dilakukan pada umur 28, 42, 70 dan 84 HST, dan Jumlah anakan, dimana perhitungan dilakukan pada umur 28, 42, 70 dan 84 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan komponen pertumbuhan dan produksi beberapa padi lokal di gorontalo. Kultivar Ponda menunjukan respon pertumbuhan dan produksi terbaik pada parameter tinggi tanaman dan jumlah anakan.
PENGAPLIKASIAN MOL REBUNG BAMBU TERHADAP PRODUKSI DAN PENDAPATAN CABAI MERAH DI KECAMATAN TILAMUTA KABUPATEN BOALEMO
Andi Lelanovita Sardianti, Irmawati Irmawati
📚 AgriTech Journal📅 Nov 2019IF: 5.20Crossref
Larutan MOL rebung bambu mempunyai kandungan C organic dan giberelin yang tinggi sehingga mampu merangsang pertumbuhan tanaman karena bahan utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber mikroorganisme, Sehingga dalam penerapannya memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan pengaplikasian MOL rebung mampu dapat meningkatkan produksi dan pendapatan cabai merah.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Cangkul, polybag dengan ukuran 40 x 60 cm, penggaris, alat tulis menulis, kertas label, kamera, sekop, gelas ukur, blender, parang, ember, pisau, cobek, timbangan, jerigen dan bahan yang digunakan yaitu tanah sebagai media tumbuh tanaman, bibit cabai merah, kotoran ayam, air cucian beras, gula merah, rebung bambu, air kelapa, dan ragi.
Prosedur penelitian adalah Persiapan benih, Persiapan media tanam, Penanaman, Penyemprotan MOL, Penyulaman, Penyiangan, Pembubunan, Penyiraman, Pemasangan Ajir, Pengendalian Hama dan Penyakit, Panen, Produksi dan Pendapatan.
Adapun variabel yang akan diamati dalam penelitian ini adalah Tinggi Tanaman (cm), Jumlah Daun (Helai), Jumlah Cabang (Cabang), Produksi dan Pendapatan
Hasil Penelitian menunjukkan produksi dan analisa pendapatan dapat dilihat bahwa tingkat produksi dan pendapatan bervariasi dan sangat ditentukan dari jumlah korbanan yang dikeluarkan dari tiap perlakuan. Dari penelitian ini yang terendah berada pada P0 (tanpa perlakuan) dengan jumlah produksi 2.100 gram dan pendapatan yang didapatkan Rp. 80.000. sementara itu jumlah produksi dan pendapatan yang tertinggi berada pada P3 (Dosis 150 ml) dengan jumlah produksi 3.000 gram dan pendapatan yang didapatkan Rp. 109.000. Sehingga dari penelitian ini untuk meningkatkan pendapatan petani maka menjadi acuan untuk mengaplikaskan MOL rebung bambu dengan dosis 150 ml (P3) karena sangat berpengaruh terhadap produksi dan pendapatan yang di dapatkan
ANALISIS BIAYA PRODUKSI DAN PENDAPATAN PADA INDUSTRI TAHU “SUMBER REZEKI” DESA HUNGAYONAA KECAMATAN TILAMUTA KABUPATEN BOALEMO
Andi Lelanovita Sardianti
📚 AgriTech Journal📅 Jun 2019IF: 5.20Crossref
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan dan biaya produksi tahu pada industri tahu “Sumber Rezeki” di Desa Hungayonaa Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo. Pengumpulan Data yang digunakan dengan cara observasi langsung ke industri tahu “ Sumber Rezeki ” dengan teknik wawancara langsung dengan responden, yaitu pemilik atau pimpinan industri, karyawan serta pedagang tahu dengan menggunakan daftar pertanyaan (Questionaire). Penentuan responden dilakukan secara sengaja (Purposive) yaitu satu orang pimpinan, dan 4 orang yang mewakili dari tenaga kerja bertugas dalam bidang mengkoordinir kinerja karyawan yang berproduksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa biaya Produksi yang dikeluarkan industri tahu “Sumber Rezeki” yaitu sebesar Rp. 34.513.500 yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel sedangkan Pendapatan yang diperoleh industri tahu “Sumber Rezeki” adalah sebesar Rp. 16.986.500.
STRATEGI PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN PANGKALAN PENDARATAN IKAN DI KELURAHAN TENDA KOTA GORONTALO
Nur F Bulotio, Abd. Hafidz Olii, Syamsuddin Syamsuddin
📚 AgriTech Journal📅 Jun 2019IF: 5.20Crossref
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Menganalisis Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Pangkalan Pendaratan Ikan dan menyusun Strategi Pengembangan Pengelolaan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kota Gorontalo. Penelitian ini berlangsung dari Bulan Mei sampai dengan Bulan Agustus 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode PHA analisis dan SWOT. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Proses analisis data pada penelitian ini yakni melalui pendekatan analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah ditemukan ketidak efesieanan yang signifikan dengan ketidak puasan pengguna jasa PPI dalam pengelolaan, prioritas utama dalam startegi pengembangan pengelolaan PPI Tenda Kota Gorontalo adalah Aspek teknik penangkapan.
Selai Salak Dengan Konsentrasi Sukrosa Yang Berbeda
Nurhafnita Nurhafnita
📚 AgriTech Journal📅 Jun 2019IF: 5.20Crossref
ABSTRAK
Salak merupakan pangan yang mudah mengalami kerusakan (perishable) baik secara mekanis, fisik, fisiologis, maupun mikrobiologis. Akibatnya salak tidak bisa disimpan dalam waktu yang panjang sebagai buah yang segar. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan cara pengolahan salak menjadi selai salak. Selai merupakan produk awetan yang dibuat dengan memasak hancuran buah yang dicampur gula dengan atau tanpa penambahan air. Selai beraneka rasa bisa kita dapatkan dengan mudah dipasaran. Selai adalah produk makanan yang kental atau setengah padat dibuat dari campuran 45 bagian berat buah (cacah buah) dan 55 bagian berat gula. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap yaitu perlakuan A= salak 375 gr + sukrosa 125gr, perlakuan B= salak 250 gr + Sukrosa 250 gr, perlakuan C= salak 125 gr + Sukrosa 375 gr masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Variabel yang diamati meliputi : kadar gula, kadar air, kadar pH,. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar gula 35,87%-63,67%, kadar air 11,04%-38,99%, kadar pH 3,92-4,10
Kata kunci : Buah Salak, Selai, konsentrasi sukrosa
ABSTRACT
Salak is a perishable food that is mechanical, physical, physiological and microbiological. As a result, salak cannot be stored for a long time as a fresh fruit. To overcome this problem, a method for processing salak into salak jam is needed.Jam is a preserved product made by cooking crushed fruit mixed with sugar with or without the addition of water. Various flavored jams we can get easily on the market. Jam is a food product that is thick or half solid made from a mixture of 45 parts by weight of fruit (pieces of fruit) and 55 parts by weight of sugar.
This study uses a completely randomized design method that is treatment A = salak 375 gr + sucrose 125gr, treatment B = bark 250 gr + Sucrose 250 gr, treatment C = salak 125 gr + Sucrose 375 gr each treatment repeated three times. The variables observed included: sugar content, water content, pH level. The results showed an average sugar content of 35.87% -63.67%, water content of 11.04% -38.99%, pH level of 3.92-4.10
Keywords: Salak fruit, jam, sucrose concentration
Kandungan Antioksidan dan Kadar Air pada Teh Mangga Quini ( Mangifera indica)
Rosdiani Azis
📚 AgriTech Journal📅 Jun 2019IF: 5.20Crossref
Teh adalah merupakan salah satu minuman yang sering dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia. Kandungan teh menjadi salah satu alasan mengapa minuman ini menjadi populer. Saat ini bahan baku teh telah mengalami perkembangan. Banyak tanaman hijau yang dapat diolah menjadi produk minuman teh. Tanaman hijau yang kaya akan antioksidan seperti tanin dan flavonoid. Adapun salah satu tanaman hijau yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi olahan teh adalah daun mangga Quini. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kandungan antioksidan dan kadar air teh daun mangga berdasarkan teknik dan lama pengeringan. Teknik pengeringan (A) yang digunakan adalah sinar matahari (A1); dioven (A2); disangrai (A3). Lama pengeringan (B) yang digunakan, yakni: 60 menit (B1); 90 menit (B2); 120 menit (B3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teh daun mangga mengalami perubahan intensitas warna. Dari uji yang dilakukan membuktikan bahwa produk teh tersebut mengandung antioksidan fenolik dan flavonoid. Adapun kandungan kadar air pada perlakuan yang terbaik ditemukan pada produk teh dengan metode pengeringan sangrai dengan lama pengeringan 2 jam, yaitu sebesar 4,06% dan kadar antioksidan tertinggi juga terdapat pada metode pengeringan matahari dengan lama pengeringan 1 jam yakni sebesar 27,23 % .
Tea is one of drinks often consumed by people in Indonesia. The content of tea become one of the reasons why this drink is popular. Nowadays, the raw materials of tea have developed. Many green plants can be processed into tea products, where have advantages in terms of their chemical content, that are very useful for health. Green plants are full of antioxidants like tannins and flavonoids. As for one of the green plants can be used to be processed for tea is the Quini mango leaf. The purpose of this research is to describe antioxidant and water level content of mango leaf tea based on technique and time of drying. The drying techniques (A) used are sunlight (A1); baked in the oven (A2); roasted(A3). The time of drying (B), used are 60 minutes (B1); 90 minutes (B2); 120 minutes (B3). The result of research shows that mango leaf tea has changed in color intensity. The tests done prov that the tea product contains anti-oxidants of phenolic and flavonoids. As for the level water content of the best experiment, found in a tea product using the roasted drying method with drying for 2 hours, is of 4,06%. The highest antioxidant level also found in the sun drying method with 1 hour drying time, is of 27,23%.
Variasi Konsentrasi Solven pada Proses Ekstraksi Antosianin dari Ubi Jalar Ungu
Ika Okhtora Angelia
📚 AgriTech Journal📅 Jun 2019IF: 5.20Crossref
Ubi jalar ungu merupakan salah satu komoditas yang harganya murah dan mudah ditemukan di seluruh wilayah Indonesia. Selain sebagai sumber makanan pokok, ubi jalar ungu juga merupakan salah satu sumber zat warna merah (antosianin) yang bisa dijadikan sebagai bahan pewarna alami makanan. Antosianin merupakan zat pewarna alami yang tergolong ke dalam benzopiran yang tidak menimbulkan kerusakan pada bahan makanan dan bukan merupakan zat yang beracun bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi solven terbaik pada proses ekstraksi antosianin pada ubi jalar ungu sebagai pewarna alami makanan dan sebagai salah satu upaya memperkenalkan kepada masyarakat khususnya masyarakat Gorontalo tentang penggunaan bahan pewarna alami makanan agar layak dikonsumsi. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode rancangan acak lengkap (RAL). Tahap-tahap dalam penelitian ini diantaranya dengan melakukan studi pustaka, pengumpulan data, dan analisis. Teknik pengujian yang digunakan adalah uji kadar antosianin, uji pH dan uji warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis kimia pada ekstraksi antosianin ubi jalar ungu dengan beberapa konsentrasi solven pada perlakuan A1 yaitu kadar antosianin 126.69 mg/100 g, pH 4.59, uji warna 353.88o. Untuk perlakuan A2 yaitu kadar antosianin 78.71 mg/100 g, pH 4.72, uji warna 330.25o. Untuk perlakuan A3 yaitu kadar antosianin 68.80 mg/100 g, pH 4.86, uji warna 315.87o.
Nugget Tempe Dengan Variasi Penambahan Tepung Tapioka Dan Pati Sagu
Mohammad Fikran Arbie, Arif Murtaqi Akhmad Mutsyahidan, Syaiful Umela
📚 AgriTech Journal📅 Jun 2019IF: 5.20Crossref
Diverifikasi pangan merupakan salah satu cara untuk membuat tempe menjadi olahan yang memiliki nilai gizi yang tinggi. Tempe dapat dibuat menjadi bahan pembuatan nugget dengan variasi penambahan antara tepung tapioka dengan pati sagu. Tujuan penelitian nugget tempe ini yaitu untuk menentukan komposisi terbaik dengan melakukan perbandingan antara bahan pengikat yaitu tepung tapioka dan pati sagu pada ketiga perlakuan. Selain itu, dilakukan pengujian organoleptik, kadar air, kadar abu, dan uji tekstur. Data hasil masing-masing analisis diolah denga nmenggunakan metode RAL. Hasil rata-rata penelitian tertinggi nugget tempe yaitu kadar air nugget tempe pada perlakuan P2 yaitu 47,69%, kadar abu nugget tempe pada perlakuan P3 yaitu 2.52% dan hasil uji tekstur teringgi pada perlakuan P3 yaitu 20,816.66. Hasil uji organoleptik tertinggi terhadap rasa, aroma dan tekstur terdapat pada perlakuan P1 dan hasil uji organoleptik terhadap warna yang tertinggi terdapat pada perlakuan P3.
Untitled
📚 AgriTech Journal📅 May 2019IF: 5.20Crossref
KARAKTERISTIK TEPUNG AMPAS KELAPA
Rosdiani Azis, Ingka Rizkyani Akolo Rizkyani Akolo
📚 AgriTech Journal📅 Jan 2019IF: 5.20Crossref
Ampas kelapa merupakan limbah yang diperoleh dari hasil pengolahan kelapa / pembuatan minyak kelapa. Pada umumnya limbah ini jarang dimanfaatkan masyarakat dan biasanya hanya dijadikan pakan ternak. Padahal jika diteliti lebih jauh ternyata ampas kelapa memiliki kandungan galaktomanan yang mempunyai peran penting dalam bidang pangan dan kesehatan. Tepung Ampas kelapa adalah Tepung adalah bahan baku utama pembuatan berbagai jenis makanan (kue). Disamping sebagai sumber pati(gizi), tepung juga sebagai pembentuk struktur. Sifat fisik tepung yang harus diperhatikan adalah harus berwarna putih , tidak menggumpal dan tidak lengket. Dikaitkan dengan sifat kimia daging buah kelapa hibrida maka yang berperan pada sifat fisik tepung adalah kadar galaktomanan dan fosfolipida.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dari tepung ampas kelapa dihasilkan dari proses ekstrak pada ampas kelapa berdasarkan kadar air, kadar abu, kadar protein, kandungan karbohidrat, uji warna. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Politeknik Gorontalo. Penelitian ini menggunakan software Minitab 16 dengan metode Sedangkan perlakuan yang diguankan adalah lamanya waktu pengeringan yaitu 2 jam, 4 jam dan 6 jam.
ANALISIS TINGKAT PENERIMAAN NUGGET IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis L.) DENGAN PENAMBAHAN BONGGOL PISANG
Satria Wati Pade
📚 AgriTech Journal📅 Jan 2019IF: 5.20Crossref
Nugget merupakan salah satu jenis variasi makanan lauk olahan siap saji dan digemari semua kalangan usia. Nugget adalah jenis makanan lauk pauk berkadar protein tinggi yang terbuat dari bahan dasar hewani dan dicampur dengan bahan lain melalui proses pemaniran dan penggorengan. Umumnya, nugget terbuat dari bahan dasar hewani seperti ayam, daging sapi, udang dan ikan. Nugget ikan sama dengan Nugget ayam hanya saja perbedaan terletak pada bahan baku yang digunakan. Salah satu jenis ikan yang dapat diolah menjadi nugget yaitu ikan cakalang. Ikan cakalang memiliki kandungan mineral makro dan mikro yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Kebanyakan produk olahan daging seperti nugget pada umumnya memiliki kelemahan pada kandungan serat yang rendah sehingga belum mencukupi serat pangan (dietary fiber). Adanya penambahan bonggol pisang pada nugget ikan cakalang akan meningkatkan kandungan serat karena bonggol pisang merupakan salah satu sumber serat pangan yang mempunyai peran penting untuk menjaga kesehatan tubuh Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap yang terdiri atas tiga perlakuan tingkat perbandingan bonggol pisang dan ikan cakalang, yaitu perlakuan A= 75% : 25% , B= 50% : 50%, C= 25% : 75%, masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Variabel yang diamati yaitu uji organoleptic meliputi: rasa, aroma, warna dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesukaan terhadap rasa berkisar antara 5,40 – 5,73, aroma 5,10 – 5,93, warna 5,07 – 5,60 dan tekstur 5,20 – 5,50 dan termasuk dalam kategori agak suka.
ANALISIS PERBANDINGAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN TANAMAN KENTANG BENIH VARIETAS GENERASI BARU DAN BENIH VARIETAS LOKAL DI KABUPATEN GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN
Andi Lelanovita Sardianti
📚 AgriTech Journal📅 Jan 2019IF: 5.20Crossref
Usahatani Kentang merupakan salah satu komoditi yang mempunyai prospek cerah guna menambah pendapatan para petani dan merupakan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan. Kebutuhan dan permintaan akan komoditas ini dari tahun ketahun terus meningkat. Peningkatan ini disebabkan oleh makin meluasnya penggunaaan produk kentang untuk berbagai bahan makanan, baik sebagai bahan sayuran, makanan ringan maupun kebutuhan industri.Tujuan penelitian ini Untuk menganalisis jumlah biaya dan hasil produksi yang diperoleh petani pada penggunaan benih varietas baru dan benih varietas Lokal, Mengkaji perbedaan pendapatan petani yang menggunakan benih varitetas baru dan yang menggunakan benih varietas lokal. Metode pengolahan data dalam Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan Teknik penarikan sampel untuk lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja dengan mengambil 40 responden petani yang menanam kentang. Hasil penelitian penunjukkan bahwa Total biaya varietas lokal yaitu Rp. 40.656.517 dan jumlah produksi varietas lokal adalah Rp. 2.580.000.000 sedangkan total biaya varietas generasi baru yaitu Rp. 785.390.000 dan jumlah produksi varietas generasi baru adalah Rp. 8.535.000.000.Terdapat perbedaan nyata pendapatan usaha tani kentang varietas generasi baru dengan varietas kentang lokal. Pendapatan usaha tani hasil varietas lokal per petani adalah sebesar Rp. 126.967.174 dan rata-rata pendapatan per hektar adalah sebesar Rp. 225.719.420. Pendapatan varietas generasi baru per petani adalah sebesar Rp. 387.480.500 dan rata-rata pendapatan per hektar adalah sebesar Rp. 508.171.148.
PEMANFAATAN PEKARANGAN BERO UNTUK USAHATANI BUAH NAGA
Dewa Oka Suparwata, Muchlis Djibran
📚 AgriTech Journal📅 Jan 2019IF: 5.20Crossref
Tujuan penelitian ialah untuk mengkaji pemanfaatan pekarangan bero untuk usahatani buah naga. Penelitian ini didesain dengan metode survei jenis ex post facto, dilakukan di Desa Banuroja Kecamatan Randangan pada bulan Maret sampai Mei 2018, dengan jumlah sampel 48 responden yang ditentukan secara purposive. Data dianalisis secara eksploratif dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: kisaran lahan milik petani yakni 1-2 Ha (64,6%) dengan pemanfaatan lahan pekarangan <0,25 Ha (56,3%). Buah naga yang diusahatanikan sebanyak 60,4% jenis kulit merah dengan daging merah, dengan penerapan pola tanam monokultur yang dominan (81,25%). Dalam penggunaan pupuk dasar sebanyak 50,0% petani memilih pupuk oraganik dari kotoran ternak sapi. Tiang rambatan yang digunakan sebanyak 73% petani menggunakan tiang panjatan dari kayu hidup/potong. Bibit tanaman diperoleh dari stek batang/sulur, tinggi bibit berkisar antara 30 cm - <60 cm (35,4%), jumlah bibit ditanam dominan 2 bibit/tiang (79,2% ), dengan jarak tanam 2 m x 3 m (35,4%). Kegiatan pemeliharaan meliputi; pengikatan, pemupukan, penyiangan, dan pengendalian hama penyakit tanaman (HPT). Panen perdana dilakukan pada umur 7-8 bulan (35.42%), selanjutnya panen raya setiap triwulan. Pemanfaatan pekarangan ini memberikan manfaat ganda selain untuk tempat tinggal, juga untuk usahatani buah naga, yang mengintensifkan lahan pekarangan bero menjadi lebih potensial.
FORMULASI KONSENTRASI JAGUNG (Zea Mays L.) HIBRIDA KERING TERHADAP MUTU FISIKOKIMIA KERUPUK
Desi Arisanti
📚 AgriTech Journal📅 Jan 2019IF: 5.20Crossref
Kerupuk jagung merupakan pangan yang potensial baru kaya karbohidrat yang bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis dan karakteristik sifat fisikokimia terhadap kerupuk jagung. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis fisikokimia mutu kerupuk pada beberapa formulasi konsentrasi jagung yang terbaik adalah perlakuan A1(uji tekstur tingkat kekerasan 1955.83%),perlakuan A2(kadar abu 1.83%), dan perlakuan A3 (kadar air 7.37%, dan volume pengembangan 58.36%).
SOSIS IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis L.) DENGAN PENAMBAHAN WORTEL (Daucus carota) DAN PATI SAGU (Metroxylon sp)
Santri Sidu, Adnan Engelen, Abd Azis Hasan
📚 AgriTech Journal📅 Jan 2019IF: 5.20Crossref
Sosis merupakan salah satu jenis pangan olahan yang di buat dari daging lumat yang dicampur bumbu-bumbu atau rempah-rempah kemudian dimasukkan dalam pengbungkus atau selonsong berbentuk bulat panjang. Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah jenis ikan laut yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dan memiliki kandungan protein tinggi yang baik untuk tubuh manusia sehingga ikan tergolong sumberdaya perikanan pelagis penting dan merupakan salah satu komoditi ekspor non-migas tidak hanya sebagai makanan pokok, ikan cakalang juga dapat pula diolah menjadi suatu produk yang bergizi yaitu sosis dengan penambahan wortel (Daucus carota) dan Pati sagu (Metroxylon sp).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi terbaik antara wortel dan pati sagu pada pembuatan sosis ikan cakalang. Rancangan percobaan yang digunakan pada tugas akhir ini adalah metode rancangan acak lengkap (RAL). Tahap-tahap dalam tugas akhir ini diantaranya dengan melakukan studi pustaka, pengumpulan data, dan analisis. Teknik pengujian yang digunakan adalah uji tingkat kesukaan, uji kadar air, uji kadar abu, uji tekstur, dan uji warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi terbaik antara wortel dan pati sagu pada pembuatan sosis ikan cakalang untuk tingkat kesukaan penerimaan panelis adalah formulasi S3 (Wortel 75% dan Pati sagu 25%) dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan yaitu 6.33. Adapun hasil analisis kimia pada sosis pada beberapa formulasi wortel dan pati sagu perlakuan S1 yaitu kadar air 65.53%, kadar abu 1,4%, uji tekstur ada 2 yaitu tingkat kelengketan 4,89% dan tingkat kekerasan 9448.08%, dan uji warna 48,70%. Untuk perlakuan S2 yaitu kadar air 64,46%, kadar abu 1,57%, teksur : tingkat kelengketan 4.88% dan tingkat kekerasan 5567.64%, dan uji warna 42,13%. Untuk perlakuan S3 yaitu kadar air 57,46%, kadar abu 2,52%, tekstur : tingkat kelengketan 4,95% dan tingkat kekerasan 3797,48%, dan uji warna 41,48%.
Untitled
📚 AgriTech Journal📅 Nov 2018IF: 5.20Crossref
ANALISIS KEKERASAN, KADAR AIR, WARNA DAN SIFAT SENSORI PADA PEMBUATAN KERIPIK DAUN KELOR
Adnan Engelen
📚 AgriTech Journal📅 May 2018IF: 5.20Crossref
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat kekerasan, kadar air, warna dan tingkat penerimaan panelis pada pembuatan keripik daun kelor. Uji yang dilakukan adalah pengujian TPA (Texture Profile Analyzer) pada kekerasan dan kelengketan dan uji kadar air menggunakan metode gravimetri pada keripik daun kelor. Penelitian ini menggunakan beberapa perlakuan antara lain A1 (25g daun kelor : 400g tepung beras), A2 (75g daun kelor : 350g tepung beras), A3 (100g daun kelor : 300g tepung beras). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kekerasan A1, A2 dan A3 memiliki nilai berturut-turut 10682 gf, 300068,0 gf, dan 5262,0 gf. Produk keripik daun kelor yang terbaik dari segi organoleptik adalah perlakuan A1 (25g daun kelor : 400g tepung beras).
RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN CAISIN (Brassica jencea L.) DENGAN PERLAKUAN JARAK TANAM
Irmawati Irmawati, Irmawati Irmawati
📚 AgriTech Journal📅 May 2018IF: 5.20Crossref
Caisin adalah tanaman sayuran yang banyak mengandung gizi yang sangat baik untuk kesehatan. Caisin dapat hidup diiklim sup-topis dan mampu beradaptasi dengan iklim tropis. Potensi hasil caisin sangat tinggi namun harus dimbangi dengan teknik budidaya yang baik, salah satunya adalah dengan penggunaan jarak tanam tepat untuk pertumbuhan dan produksi caisim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman caisim (Brassica juncea L.). Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan terhitung dari bulan Mei sampai Juni 2018. Bertempat di Desa Batu Keramat Kecamatan Paguyaman Kabupaten Bualemo Provinsi Gorontalo. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari empta perlakuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan jarak tanam 20 cm x 30 cm memberikan hasil lebih baik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman caisim
UJI KARAKTERISTIK KOPI NON KAFEIN DARI BIJI PEPAYA DENGAN VARIASI LAMA PENYINARAN
Ika Okhtora Angelia
📚 AgriTech Journal📅 May 2018IF: 5.20Crossref
Minuman kopi biasanya berasal dari biji kopi pilihan yang memiliki kandungan antioksidan lebih besar dibandingkan teh hitam. Selain kandungan antioksidan, minuman dari biji kopi mengandung sumber kafein yang sangat tinggi. Pembuatan kopi dari bahan dasar biji pepaya diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat tentang kandungan kafein pada biji kopi, sehingga masyarakat bisa mengetahui yang mana proses penyangraian kopi biji pepaya yang berkualitas baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi lama penyangraian terbaik terhadap karakteristik mutu kopi biji pepaya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode rancangan acak lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang paling disukai antara semua perlakuan adalah perlakuan A3 (lama penyangraian 80 menit). Adapun hasil analisa sifat kimia kopi bubuk biji pepaya pada perlakuan A1 yaitu; kadar air 4,11%, kadar abu 8,75%, total mikroba 135,33 koloni/gram, dan total padatan tidak larut air 35,39%. Untuk perlakuan A2 yaitu; kadar air 2,86%, kadar abu 8,15%, total mikroba 94 koloni/gram, dan total padatan tidak larut air 17,96%. Perlakuan A3 yaitu; kadar air 2,39%, kadar abu 7,41%, total mikroba 1,33 koloni/gram, dan total padatan tidak larut air 8,25%. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa, rata-rata kandungan gizi kopi bubuk biji pepaya pada perlakuan yang disukai adalah kadar air 2,39%, kadar abu 7,41%, kadar total padatan tidak larut air 8,25%, dan total mikroba 1,33 koloni/gram. Kadar air, abu dan total mikroba sudah memenuhi syarat mutu kopi sangrai berdasarkan SNI tetapi kadar total padatan tidak larut air tidak memenuhi syarat mutu kopi sangrai berdasarkan SNI.
Karakteristik Dangke Kombinasi Susu Jagung Dan Susu UHT (Ultra High Temperature)
Arif Murtaqi Akhmad Mutsyahidan, Ika Okhtora Angelia, Febrianti E. Kadir
📚 AgriTech Journal📅 May 2018IF: 5.20Crossref
Susu jagung manis memiliki kelebihan sebagai susuyang rendah kolesterol, serta cocok untuk penderita diabetes. Susu jagung dapat pula diolah menjadi dangke dengan penambahan susu UHT (Ultra High Temperature). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi terbaik susu jagung manis dan susu UHT dalam pembuatan dangke. Pengujian yang digunakan meliputi uji hedonik, uji kadar air, uji kadar abu, kadar lemak, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesukaan penerimaan panelis untuk perlakuan terbaik adalah S2 (susu jagung 500 mL dan susu UHT 500 mL) dengan nilai rata-rata tingkat kesukaan yaitu 3,8. Adapun hasil analisis kimia pada dangke pada beberapa kombinasi susu jagung dan susu UHT perlakuan S1 yaitu kadar air 72,98%, kadar abu 3,20%, kadar lemak 0,57%, pH 6,82%. Untuk perlakuan S2 yaitu kadar air 69,32%, kadar abu 1,67%, kadar lemak 0,17%, pH 6,99. Untuk perlakuan S3 yaitu kadar air 73,45%, kadar abu 2,16%, kadar lemak 1,23%, pH 7,25%.
KOMBINASI TERBAIK PENGGUNAAN SUSU PASTEURISASI DAN JAGUNG PULUT PADA ES KRIM
Syaiful Umela
📚 AgriTech Journal📅 May 2018IF: 5.20Crossref
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi terbaik penggunaan susu pasteurisasi dan susu jagung pulut pada es krim dan untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap es krim yang dihasilkan. Es krim adalah sejenis makanan semi padat yang dibuat dengan cara pembekuan tepung es krim atau campuran susu, lemak hewani maupun nabati, gula, dan dengan atau tanpa bahan makanan lain yang diizinkan. Es krim adalah buih setengah beku yang mengandung lemak teremulsi dan udara. Sel-sel udara yang ada berperan untuk memberikan tekstur lembut pada es krim tersebut. Tanpa adanya udara, emulsi beku tersebut akan menjadi terlalu dingin dan terlalu berlemak. (Marshall dan Arbuckle, 1996). Untuk meningkatkan citarasa es krim biasanya ditambahkan bahan lain, seperti; chocolate, strowberry, jagung dan berbagai jenis buah lainnya. Penelitian ini menggunakan bahan dasar susu pasteurisasi dan bahan tambahan susu jagung pulut. Susu pasteurisasi adalah susu yang telah dipanaskan pada suhu 63-66oC selama 30 menit dan 72oC selama 15 detik untuk membunuh virus dan organisme patogen seperti bakteri, jamur, protozoa dan ragi. Metode penelitian menggunakan metode hedonik untuk menentukan tingkat kesukaan, rasa, warna, tekstur, aroma, dan analisis proksimat untuk mengukur daya leleh, kadar protein dan total gula. Model penelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Penelitian menggunakan 3 perlakuan yakni perlakuan A1 dengan komposisi : 100 ml susu pasteurisasi dan susu jagung pulut 50 ml; perlakuan A2 dengan komposisi : 75ml susu pasteurisasi dan 75 ml susu jagung pulut, dan perlakuan A3 dengan komposisi : 50 ml susu pasteurisasi dan 100 ml susu jagung pulut. Berdasarkan penelitian diperoleh komposisi terbaik es krim perlakuan A2 dengan komposisi : 75 ml susu pasteurisasi dan 75 ml susu jagung pulut, daya leleh 9.23 menit, kadar protein 4.07 %, kadar gula 21.26 %, dan tingkat kesukaan penerimaan rasa 4.05, warna 3.5, tekstur 3.65, dan aroma 3.65.
KARAKTERISASI MUTU MINYAK KELAPA HASIL PROSES PEMERAMAN DAN PEMASAKAN SANTAN
Rosdiani Azis
📚 AgriTech Journal📅 May 2018IF: 5.20Crossref
Kelapa merupakan komoditas yang tersebar diseluruh Indonesia namun konsumsi kelapa dalam bentuk minyak masih sangat kurang. Minyak kelapa yang di hasilkan pada umumnya berkualitas rendah (cepat tengik), selain itu minyak yang di hasilkan warna yang tidak jernih dan beraroma yang khas (aroma blondo) ini di sebabkan proses pengolahan minyak yang kurang baik dan yang sering di keluhkan masyarakat adalah waktu pengolahan yang relatif lama, oleh karena itu perlu mencari metode pengolahan minyak kelapa tradisional yang lebih efektif dan efisien. Metode yang di gunakan adalah pemeraman dan pemanasan santan, sehingga minyak yang di hasilkan bermutu baik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan mutu minyak kelapa, dan mempelajari metode pemeraman santan dan pemasakan santan dengan minyak yang di hasitkan yakni warna bening dengan tekstur bfondo yang telah padat dan berwarna masih putih, dengan membandingkan ke dua metode pengolahan minyak. Parameter penelitian ini adalah bilangan peroksida, bilangan asam lemak bebas, kadar air, sifat organoleptik yang meliputi warna dan aroma. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa minyak hasil pemanasan santan lebih baik dari pada minyak hasil pemeraman jika di lihat dan kandungan kimianya, sedangkan jika dilihat dari segi rendemen yang di hasilkan maka, minyak hasil pemeraman lebih baik.
PEMANFAATAN TEPUNG UBI KAYU (Manihot Utilisima) SEBAGAI SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU DALAM PEMBUATAN BISKUIT
SATRIA WATI PADE, HAPSA AKUBA
📚 AgriTech Journal📅 May 2018IF: 5.20Crossref
Biskuit merupakan salah satu jenis kue kering dengan bahan baku utama adalah tepung terigu. Tepung terigu terbuat dari gandum. Gandum merupakan salah satu komoditi import yang terus mengalami peningkatan setiap tahun. untuk mengurangi import gandum yang terus meningkat maka diperlukan adanya alternatif bahan pangan lokal sebagai sumber karbohidrat pengganti tepung terigu di masa yang akan datang. Salah satunya bahan hasil pertanian yang dapat diolah menjadi salah satu sumber karbohidrat yaitu ubi kayu. Berdasarkan data BPS (2018) produksi ubi kayu pada tahun 2015 mencapai 21.801.415. ton. Ubi kayu memiliki beberapa keunggulan, diantarnya adalah kadar gizi makro (kecuali protein) dan mikro tinggi, kadar glikemik dalam darah rendah, kadar serat pangan larut tinggi, dalam usus dan lambung berpotensi menjadi prebiotik. Ubi kayu sebagai sumber energi yang kaya akan karbohidrat dapat diolah menjadi tepung. Menurut Ginting (2002), tepung ubi kayu (cassava) dapat digunakan dalam pembuatan tepung campuran, yaitu campuran antara tepung terigu dengan tepung ubi kayu (cassava), karena tepung ubi kayu mempunyai warna, tekstur, dan aroma yang menyerupai tepung terigu. ubi kayu itu mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan dapat digunakan untuk menunjang diversifikasi pangan. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap yang terdiri atas lima perlakuan yaitu perlakuan A= 0% : 100% , B= 30% : 70%, C= 70% : 30%, D= 100% : 0%, E= 50% : 50%, masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Variabel yang diamati meliputi : uji organoleptik yang terdiri dari uji rasa, aroma, warna dan tekstur, kadar air, kadar abu dan kadar protein. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesukaan terhadap rasa berkisar antara 3,8-4,25, aroma berkisar antara 3,55-4,1, warna berkisar antara 3,4-4,25, tekstur bekisar antara 3,15-4,1, rata-rata kadar air berkisar 3,98-5,09, kadar abu berkisar 1,38 - 2,21% dan kadar protein berkisar 2,55-7,66%.
Untitled
📚 AgriTech Journal📅 May 2018IF: 5.20Crossref
PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR DAN KEPADATAN IKAN NILA TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN SAWI (Brassica juncea) DENGAN SISTEM AKUAPONIK
M. Darmawan, Jabal Nur
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Ikan nila merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikomsumsimasyarakat. Ikan nila mengandung asam lemak omega-6 yang tinggi tetapi asam omega-3yang rendah. Tubuh ikan nila mengandung protein dan air cukup tinggi serta mempunyai pHtubuh mendekati netral sehingga menjadi media baik untuk pertumbuhan bakteri perombak.Selain itu, sumber mineral dan vitamin lainnya pada tanaman sayur-sayuran, salah satunyaadalah tanaman sawi. Tanaman sawi mengandung senyawa nutrient yang tinggi danglukosinolat yang bias dimanfaatkan sebagai obat kangker. Di Indonesia pembudidayaansawi sudah lama dilakukan, namun gagal untuk memperoleh hasil yang tinggi, disebabkanoleh serangan hama dan penyakit. Kualitas produksi tanaman sawi tergantung interaksi antarapertumbuhan tanaman dan kondisi lingkungannya. Salah satu teknik budidaya yangdiharapkan dapat meningkatakan kualitas dan produksi tanaman sawi adalah dengan teknikaquaponik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman sawi dan ikannila terhadap perlakuan pupuk organic cair dan untuk mengetahui interaksi antara ikan niladan pupuk organic cair terhadap pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian ini menunjukanbahwa perlakuan pemberian pupuk cair organik memberikan pengaruh pada fase vegetatifpada setiap parameter pengamatan namun pada faktor kepadatan ikan nila pada kolam tidakmenunjukan pengaruh pada setiap paramater.
ANALISA KUALITAS NUGGET IKAN TUNA (Thunnus sp.) SELAMA PENYIMPANAN BEKU (Quality Analysis Of Tuna Fish Nugget (Thunnus sp.) During Frozen Storage)
Wila Rumina Nento, Putri Sapira Ibrahim
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Ikan tuna dalam bentuk ikan segar memiliki masa simpan yang pendek. Daging dariikan tuna dapat diolah menjadi produk fish nugget yang juga dapat memperpanjang umursimpan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas nugget ikan tuna selamapenyimpanan beku. Penelitian ini dilakukan dengan tiga kali ulangan dengan perlakuanwaktu penyimpanan 0 hari (kontrol), 3 hari (N1), 6 hari (N2), 9 hari (N3) dalam suhu beku -4oC. Sampel kemudian dianalisis secara kimia, yakni kadar air, kadar protein, dan kadarlemak. Dari hasil penelitian yang dilakukan hasil kadar air, kadar protein, dan kadar lemakuntuk sampel kontrol (tanpa pembekuan) berturut-turut adalah 48,23%; 26,49%; 18,00%.Untuk sampel N1 (3 hari) didapat hasil analisa kadar air, kadar protein, dan kadar lemakberturut-turut 45,57%; 23,41%; 15,03%. Untuk sampel N2 (6 hari) didapat hasil analisakadar air, kadar protein, dan kadar lemak berturut-turut 43,47%; 20,24%; 13,01%. Untuksampel N3 (penyimpanan 9 hari) didapat hasil analisa kadar air, kadar protein, dan kadarlemak berturut-turut 42,78%; 17,16%; 10,98%.
KARAKTERISTIK KEKERASAN DAN KELENGKETAN PADA PEMBUATAN MI SAGU BASAH
Adnan Engelen
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat kekerasan dan kelengketan padapembuatan mi sagu basah. Uji yang dilakukan adalah pengujian TPA (Texture ProfileAnalyzer) pada kekerasan dan kelengketan mi sagu dengan menggunakan teksturanaliser HD-Plus. Penelitian ini menggunakan beberapa perlakuan binder (30%,50%, 70%, 90%) yang dicampurkan ke dalam pati sagu 200g sehingga membentukadonan yang kalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan binder 50%memiliki karakteristik kekerasan dan kelengketan yang paling baik dibandingkanbinder (pati gelatinisasi 30%, 70%, dan 90%).
VARIASI KONSENTRASI STARTER Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus TERHADAP KARAKTERISTIK YOGHURT JAGUNG PULUT
Syaiful Umela
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Jagung pulut, jagung ketan (Waxy Corn),(Zea mays ceratina) merupakan salah satu jenisjagung yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Di beberapa negara maju, sepertiJepang jagung ini telah dimanfaatkan sebagai sumber amilopektin yang digunakan dalamproduk makanan, tekstil, lem, dan industri kertas. Gorontalo adalah salah satu daerah yangbanyak membudidayakan jagung pulut, dan dikonsumsi dalam berbagai bentuk olahanmakanan dalam mendukung ketahanan pangan. Produk yoghurt jagung merupakan variasidari produk yoghurt yang telah ada. Yoghurt susu jagung dibuat dengan bahan baku nabatiyaitu susu jagung, dan dicampur dengan susu skim sebagai sumber protein, serta bakteri asamlaktat. Pembuatan yoghurt tersebut merupakan usaha dalam rangka diversifikasi panganfungsional. Pemanfaatan susu jagung untuk pembuatan yoghurt akan dapat meningkatkannilai ekonomis jagung itu sendiri. Selama ini jagung hanya diolah menjadi makanantradisional dan makanan ternak, oleh karena itu, salah satu cara untuk meningkatkan nilaitambah dari jagung pulut adalah dengan mengolah menjadi minuman probiotik yaitu dalambentuk bahan olahan berupa yoghurt. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristikdan mutu yoghurt jagung pulut dengan variasi penggunaan starter. Manfaat lanjut daripenelitian ini akan meningkatkan nilai fungsional jagung pulut dan menjadi bahan informasikepada masyarakat tentang pengolahan dan pemanfataan jagung pulut menjadi bahanminuman probiotik berupa yoghurt dalam industri pangan. Berdasarkan penelitian diperolehkesimpulan,bahwa rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, aroma, warna, dan teksturberkisar 3,3 – 4.0% atau agak suka sampai suka. Dimana perlakuan terbaik adalah A3, yaitukomposisi susu jagung 500 ml dan penggunaan starter 5 % dengan perolehan kadar proteindan kadar asam laktat sesuai rekomendasi SNI.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK MINUMAN DAUN SUKUN (Artocarpus Altilis) DENGAN PENAMBAHAN
Mulyati M. Tahir, Zainal Z, Darma D
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Daun sukun dan bunga melati telah lama dipercaya memiliki manfaat kesehatan bagi tubuh manusia, kandungan antioksidannya bisa menangkal radikal bebas. Formulasi ini mengintegrasikan unsur hara sukun dan harum melati kemudian pembuatan produk daun sukun dalam bentuk bubuk. Minuman ini dibuat dengan menggabungkan komponen bioaktif yang terkandung dalam daun sukun untuk menghasilkan minuman kesehatan dari daun sukun dengan penambahan melati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bunga melati pada minuman daun sukun dan untuk mengetahui kadar antioksidan pada minuman daun sukun dengan penambahan melati. Metode penelitian yang digunakan adalah uji T, 1 faktorial dengan dua ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah A0 (daun sukun 100%), A1 (daun sukun 75% dan melati 25%), A2 (sukun daun 50% dan melati 50%) dan A3 (daun sukun 75% dan melati 25%). Analisis Parameter adalah pH, aktivitas antioksidan, kadar tannin dan uji organoleptik untuk warna, aroma, dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A1 adalah perlakuan terbaik yang menggunakan 75% daun sukun dan melati 25%. Nilai pH 6,95, aktivitas antioksidan sebesar 50,46%, kadar tanin 0,0674 mg/mLdan hasil uji organoleptik (warna, aroma, dan rasa) lebih disukai oleh panelis.Kata kunci: Sukun; daun; melati; minuman; pengering vakum.
EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PENYERAPAN ORTHOFOSFAT PADA LIMBAH DETERGEN MENGGUNAKAN KAYU APU (Pistia stratiotes L.)
Putri Sapira Ibrahim
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Detergen dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena dalam limbah tersebutmengandung fosfat yang tinggi. Sehingga perlu adanya alternatif pengolahan yang mudah,murah, dan efektif dalam pengaplikasiannya. Salah satu caranya adalah dengan menggunakantanaman air Kayu apu (Pistia stratiotes L.) yang dapat menyerap orthofosfat. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas Kayu apu (Pistia stratiotes L.) sebagaiagen penyerap orthofosfat pada limbah detergen selama masa tanam 6 hari, dan untukmengetahui parameter kualitas air yang mempengaruhinya. Hasil dari penelitian ini Kayuapu (Pistia stratiotes L.) mampu menurunkan konsentrasi orthofosfat pada limbahdetergen yang semula mengandung orthofosfat 1,1 mg/l menjadi berkurangkonsentrasinya dengan penurunan rata-rata berkisar 0,12-0,43 mg/l. Tingkat efektivitasdan efisiensi terbaik dari penelitian ini yaitu pada perlakuan menggunakan Kayu apu(Pistia stratiotes L.) dengan nilai persentase penyerapan orthofosfat sebesar 39,09%dalam waktu enam hari yaitu senilai 0,43 mg/l. Hasil pengamatan kualitas air secarakeseluruhan masih dalam kisaran normal yaitu suhu selama penelitian berkisar antara230C - 250C, pH berkisar antara 8,10-8,60, DO berkisar antara 3,88 mg/l–5,25 mg/l.
KAJIAN ANALISIS PENDAPATAN INTEGRASI TANAMAN-TERNAK DENGAN KOMODITAS SAPI POTONG, JAGUNG DAN PADI DI KECAMATAN BOLIYOHUTO, KABUPATEN GORONTALO (Study on Income Analysis of Integrated Farming With Commodities of Beef Cattle, Maize and Rice in Boliyohuto Su
Amirudin A
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Salah satu usaha sistem pertanian terpadu yaitu sistem integrasi tanaman ternak. Sistem integrasitanaman semusim- ternak sapi potong sebagai salah satu upayah untuk meningkatkan produksisapi potong yang merupakan penyumbang daging terbesar terhadap produksi daging nasionalsehingga usaha ternak ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha yang menguntungkandan meningkatkan pendapatan peternak. Masyarakat di Kecamatan Boliyohuto, KabupatenGorontalo telah lama melakukan sistem integrasi antara tanaman semusim dengan ternak sapipotong (Integrated Farming System). Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah masyarakatmasih menganggap usaha sapi potong yang mereka jalankan sebagai usaha sampingan karenakehidupan masyarakat umumnya masih bertumpu pada usaha pertanian terutama tanamansemusim sebagai usaha pokoknya padahal sapi potong memberikan sumbagan yang besar dalampendapatannya. Berdasarkan uraian sebelumnya, maka dilakukan penelitian tentang “ KajianAnalisis pendapatan Integrasi Tanaman-Ternak dengan Komoditas Sapi Potong, Jagung dan padidi Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontaloâ€. Penelitian ini lakukan untuk mengetahuibesarnya pendapatan dari sistem integrasi tanaman semusim-sapi potong serta untuk mengetahuiapakah usaha tani tanaman semusim merupakan usaha pokok dan usaha ternak sapi potongmerupakan usaha sampingan atau sebaliknya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November2016 sampai Februari 2017 di Kecamatan Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo. Jenis penelitian iniadalah jenis penelitian deskriptif. Analisa data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptifdengan menggunakan rumus pendapatan Pd = TR-TC dan rumus kontribusi yaitu selisih antarausaha ternak sapi potong dengan total pendapatan usaha tani dikali dengan 100%. HasilPenelitian menunjukkan bahwa Penerimaan pada usaha ternak sapi potong yang terbesar padaskala luas lahan < 1,00 Ha sebesar Rp. 111.733.334/tahun dan terkecil pada skala luas lahan >1,50 sebesar Rp. 51.166.500/tahun. Sedangkan Penerimaan pada tanaman semusim yangmemiliki penerimaan terbesar yaitu pada skala luas lahan 1,50 Ha sebesar Rp. 77.720.00/tahundan penerimaan terkecil pada skala luas lahan < 1,00 Ha sebesar Rp. 20.000.000/tahun.
KARAKTERISTIK SIFAT KIMIAWI BROWNIS SORGUM (Sorghum bicolor L) DENGAN SUBTITUSI TEPUNG TERIGU
Desi Arisanti
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Sorgum (Sorghum bicolor L). merupakan bahan pangan yang mempunyai mengandungkarbohidrat yang cukup tinggi seperti halnya pada beras, terigu dan jagung. Sorgum bisadijadikan sebagai pengganti tepung terigu yang baik untuk pembuatan kue seperti brownis.Selain sebagai sumber karbohidrat, sorgum memiliki kandungan protein, kalsium dan vitamin B1yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan dan mengetahuimutu brownis kukus. Parameter pengamatan penelitian adalah meliputi uji kadar air, uji kadarabu, dan uji kadar protein.Kesimpulan dari penelitian ini adalah analisis sifat kimia padabrownis sorgum yang terbaik pada perlakuan B3 yaitu kadar air 50,54%, kadar abu 1,84%, kadarprotein 1,21%.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KARAKTERISTIK FISIK BIJI JAGUNG (Zea mays) VARIETAS HIBRIDA DAN KOMPOSITâ€. (The Factor of Affecting Physical Characteristics of Maize Seeds (Zea mays) Hybrid and Composite Varieties)
Syamsinar Rahmia
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Umumnya produk pertanian bersifat mudah rusak disebabkan kandungan air dalam bahanpangan. Dalam upaya pengembangan teknologi di bidang pertanian dibutuhkan informasitentang karakteristik bahan baku meliputi sifat fisik dan mekanik bahan sehingga dapatdisusun kriteria mutu produk pertanian yang akan dihasilkan maupun teknik dan prosespengolahannnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhikarakteristik fisik biji jagung berdasarkan varietas, kadar air, dimensi biji, dan kerapatan bijijagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas jagung (V), kadar air biji (ka), dimensitebal biji (DT), dimensi lebar bawah biji (DLB), kerapatan biji searah (KS), dan kerapatan bijitegak lurus (KTL) berpengaruh terhadap karakteristik sifat fisik biji jagung.
KANDUNGAN PH, TOTAL ASAM TERTITRASI, PADATAN TERLARUT DAN VITAMIN C PADA BEBERAPA KOMODITAS HORTIKULTURA (pH Content, Total Acidified Acid, Dissolved Solids and Vitamin C in Some Horticultural Commodities)
Ika Okhtora Angelia
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Buah dan sayuran merupakan sumber komoditas hortikultura yang potensial dan banyakmengandung nutrisi terutama vitamin sehingga sangat baik jika dikonsumsi setiap haridan mudah didapat, murah dan murah serta sumber vitamin dan mineral. Selain menjadisumber vitamin, buah-buahan juga mengandung mineral, serat dan pada jenis buahtertentu juga menghasilkan cukup banyak energi. Berdasarkan hasil penelitian diperolehrata-rata pH dari masing-masing sampel adalah pepaya 6.1247, wortel 8.0715, tomat4.6425, nanas 4.7557. Berdasarkan hasil penelitian, masing-masing sampelmenunjukkan total padatan terlarut terlarut, padatan terlarut dalam pepaya 2223, wortel2.9325, tomat 3.125 dan nanas 9.52. Berdasarkan hasil penelitian nilai kandunganvitamin C pada setiap sampel adalah pepaya 9.0728, wortel 23.4915, tomat 17.8015,dan nanas 14.379. Perbedaan hasil untuk masing-masing sampel dapat dipengaruhi oleh:perbedaan jumlah asam organik pada setiap sayuran dan buah
PENGARUH ASAM ASKORBAT DAN SODIUM ACID PYROPHOSPHATE (SAPP) DALAM MENCEGAH KERUSAKAN ANTIOKSIDAN UBIJALAR UNGU VARIETAS ANTIN 3
Abd. Azis Hasan
📚 AgriTech Journal📅 Apr 2018IF: 5.20Crossref
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi asam askorbat dan sodium acidpyrophosphate (SAPP) yang terbaik dalam mencegah kerusakan antioksidan akibat reaksipencoklatan pada umbi ubijalar ungu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan percobaanfaktorial dalam Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor. Pada penelitian ini faktorpertama adalah konsentrasi asam askorbat (1%; 2%; 3%), faktor kedua adalah konsentrasiSAPP (0,01%; 0,1%; 1%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi terbaik asamaskorbat adalah 3%, sedangkan sodium acid pyrophosphate (SAPP) adalah 0,1%. Interaksikedua faktor pada konsentrasi tersebut dapat mencegah kerusakan antioksidan akibat reaksipencokelatan umbi ubijalar ungu selama pengolahan.
Untitled
📚 AgriTech Journal📅 Dec 2017IF: 5.20Crossref
Peningkatan prestasi fisika materi gerak lurus beraturan melalui strategi pembelajaran quantum teaching dengan media papan lucur pada siswa kelas XE SMAN 1 Randangan
Tarmuji Tarmuji
📚 AgriTech Journal📅 Jul 2017IF: 5.20Crossref
This study aims to determine how Quantum teaching can improve learning outcomes motion of matter physics learner Xe class SMAN 1 RANDANGAN the academic year 2014.this subjek study is Xe grade student of SMAN 1 RANDANGAN totalling 36 people. This study is a qualitative study using reaserch methods class action (PTK),which refers to the model taggart.this study conducted by two cycles.each cycle consist of four stages,planning,action,action,observation,reflection. This restult of this study indicate that the application of contextual learning model type of problem based learning can improve learning outcomes Xe grade physics students SMAN 1 RANDANGAN.this study of students has increased by 70% in the second cycle than the cycle 1increased only 45%. This learning result in cycle 1 has an average value of contextual learning strategi 78.Quantum teaching type that can improve learning outcomes Xe grade physics students SMAN 1 RANDANGAN is to use a team approach with their strict rules on when learning takes place.
Pengaruh sukrosa terhadap mutu kurma analog belimbing wuluh
Desi Arisanti
📚 AgriTech Journal📅 Jul 2017IF: 5.20Crossref
Buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) banyak tersebar di indonesia sebagai tanaman pekarangan yang belum dibudidayakan. Selain itu rasa asam dan kadar air yang tinggi pada buah menyebabkan buah jarang dikonsumsi secara langsung dan daya simpan buah relative singkat. Salah satu cara pengembangan buah adalah dijadikan kurma belimbing wuluh (kurma analog).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan kurma analog dengan kombinasi belimbing wuluh dan sukrosa,untuk mengetahui kandungan beberapa sifat kimia kurma analog. Metode yang digunakan pada tugas akhir iniadalah metode pengujian terhadap uji organoleptik, uji kadar air, uji kadar gula, uji kadar abu, dan uji kadar vitamin C. Hasil penelitian menunjukan hasil uji organoleptik memiliki tingkat kesukaan yang di hasilkan dari tiga perlakuan kurma analog dengan kombinasi komposisi belimbing wuluh dan sukrosa secara keseluruhan berada pada skala 3,25 – 3,90 atau dalam taraf biasa sampai agak suka. Dan kurma analog yang di sukai oleh panelis adalah perlakuan A3 dan berdasarkan hasil analisa kurma analog dengan kombinasi komposisi belimbing wuluh dan sukrosa, berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air dan kadar gula